Logika apa yang dipakai oleh agresor
Israel yang sampai hati membantai ratusan penduduk Palestina di Gazza? Alibi
kerdil apa yang sampai bisa memasung kepedulian bangsa Arab untuk sekadar
menonton pembantaian massal di Palestina? Sudah terlalu menggunungkah dosa-dosa
kita yang kemudian mengatup nurani untuk melek menyaksikan kejahatan perang tak
termaafkan dalam sejarah itu?
Manusia-manusia Islam yang sudah kehilangan
kepedulian saudara-saudaranya di belahan bumi yang lain itu, hanya kuasa
menjerit pilu. Cuma bisa mengerang tak bisa berbuat apa apa, tatkala
suami-suami mereka jatuh tersungkur bermandi darah; ketika bocah-bocah yang
lucu dan menggemaskan itu berteriak kesana-kemari dalam derai kepanikan;
manakala puluhan apartemen usang yang menjadi tempat berteduh keluarga-keluarga
malang itu seketika roboh dihantam peluru raksasa Israel. Yang tersisa adalah
gelimpangan mayat, jasad bocah-bocah suci yang tersenyum tenang, dan
puing-puing bangunan yang menyatu ke bumi.
Israel kembali menggunakan “logika
kematian”. Strategi bertaruh nyawa yang tentu saja membuat bulu kuduk
pemimpin-pemimpin Arab merinding. Karena kumpulan orang-orang yang mengaku diri
mulia dan terhormat itu tidak pernah mengerti bahwa hanya dengan pertaruhan
darah demi membela kemerdekaan sejati, manusia baru bisa mulia lalu mendapatkan
kehormatan abadi. Bukan dengan bersembunyi di balik ketiak kepengecutan, atau
menggelar ratusan pertemuan di meja-meja konferensi OKI, Liga Arab, yang selalu
saja berakhir dengan rekomendasi bualan. Tanpa bukti. Pantas mereka menjadi
kurcaci dihadapkan dengan logika kematian Israel?
Bagi rakyat Palestina sendiri dari
dulu hingga sekarang, mereka sudah memahami bahwa letak krisis Palestina bukan
karena Israel yang tak henti-hentinya melakukan pembunuhan dan perampasan.
Masalah kematian bagi mereka tak menjadi soal, sebab mereka faham bahwa
kesucian dan kemuliaan diri itu selalu harus ditebus dengan darah dan air mata.
Sumber genosida di Gazza adalah
sikap pengecut pemimpin-pemimpin Arab dan umat Islam yang telah kehilangan
semangat altruistik. Lelap berselimut egoistis hingga tak lagi peka akan
nilai-nilai humanisme, yang tak lagi menyemat spirit kohesif yang menjadi pilar
kekuatan Islam dan bangsa Arab. Dan, oleh karenanya kita dilindas Israel
(Barat) yang sukses mengaplikasi semangat altruistik dan spirit kohesif! Maka
wajar kita kalah.
Kontribusi Wanita Permata
Kenapa Palestina yang tinggal
sekerat itu masih tetap bertahan menggelorakan semangat perlawanan tanpa batas
dan tidak lekang dari bumi? Sebab di atas tanah milik umat Islam itu ada
wanita-wanita luar biasa.
Bak permata. Meskipun tak menyimpan
permata dan perhiasan mewah. Kemilaunya memancar dari kepribadian. Wanita yang
mungkin tersembunyi, terbenam bersama perjuangan membina generasi pejuang.
Mereka tidak populer, tapi selalu membisikkan spirit kepahlawanan ke
telinga-telinga putera-puteri tercinta. “Nak, kehidupan abadi itu di
surga. Kemuliaan itu senantiasa harus ditebus dengan tetes darah dan derai air
mata”!
Begitulah Ummu Nidhol, wanita
permata Palestina yang kerap membisikkan spirit perjuangan kepada ketiga
puteranya. Ia deskripsikan surga di pangkal mata. Ia tak pernah pacu sang anak
untuk merengkuh kehidupan hedonis yang acapkali membinasakan mental ukhrawi. Ia
tak cita-citakan puteranya untuk mengemis harta bertuhankan nafsu. Ia hanya
inginkan buah hatinya masuk surga, dengan berkorbankan darah.
Usai putera ketiganya yang baru
berusia 16 tahun syahid dalam drama ledakan dahsyat di jantung kekuatan Israel,
Ummu Nidhol menangis. Ketika ditanya perihal penyebab ia menangis. Wanita
permata itu berkata: “Saya tidak punya lagi anak yang bisa saya persembahkan
untuk kemuliaan Palestina!”
Lalu Ibunda Muh. Al-Fatih, sang
penakluk Konstantinopel tahun 1453 M. Dalam usia 23 tahun, Al-Fatih berhasil
memaksa hengkang Raja Constantine XI Paleologus dari tahtanya. Penaklukan
paling fantastis dalam sejarah.
Ibunyalah yang kala masih mengandung
Al-Fatih acap berdiri menghadap ke arah kota Konstantinopel. Ia berharap besar
bahwa kelak puteranya yang akan menaklukkan negeri itu. Mengamini sabda baginda
Rasulullah Saw. ““Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan umat Islam.
Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang
berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad).
Obsesi mulia wanita permata.
Menegaskan Substansi Krisis
Sekali lagi, memang benar genosida
di Gazza saat ini merupakan potret keangkaramurkaan. Sangat pantas kita kecam
kebiadaban Israel bahkan menjadi suatu keharusan. Tidak kita biarkan penduduk
Gazza menahan derita seorang diri. Segera tabuh genderang reaksi massal untuk
hentikan pembantaian itu. Sebelum terlambat. Sebelum Palestina, seperti kata
DR. Raghib Sirjani, akan menjadi Andalusia kedua. Hilang dari peta dunia.
Tapi, seyogyanya jangan biarkan
pemimpin-pemimpin Arab yang duduk santai di singgahsana apatis itu lepas dari
kecaman. Sebab mereka yang paling bertanggungjawab atas tragedi kemanusiaan
yang melanda bumi Palestina. Paksa mereka untuk mengulurkan bantuan dan
membungkam kekejaman Israel, walaupun mungkin hal itu hampir mustahil mereka
lakukan.
Mengapa? Barangkali karena sosok
wanita-wanita permata itu hanya ada di Palestina, hanya pernah ada di masa
penaklukan Konstantinopel. Yang ada hanya seorang ibu yang cita-citanya hendak
mengikuti riak-riak kecil arus modernisme. Meletakkan standar kesuksesan
anak-anak pada wujud materi dan segudang sertifikasi. Seorang isteri yang
memaksa suami berpeluh darah untuk menangkap kebahagiaan semu pada jabatan,
pangkat, dan prestise. Pada ruang-ruang busana temporal yang sering menguap
dilahap waktu. Mengapa ibu dan isteri itu tak membisikkan senandung merdu
tentang surga ke telinga-telinga anak dan suami? Kenapa tak pintal sutera cinta
dalam tiap keinginan bahwa ibu dan isteri itu ingin bersama merengguk
kebahagiaan abadi?
Genosida (kejahatan besar yang terorganisir) Gazza adalah konsekuensi
dari punahnya sistem pendidikan ukhrawi yang hanya bisa diajarkan oleh
wanita-wanita permata. Cukup kita sesalkan karena pemimpin-pemimpin Arab itu
dilahirkan, dibesarkan, dididik, dan didampingi oleh reinkarnasi wanita lain.
Harapan itu masih ada. Di Palestina masih banyak
wanita permata yang menjamin eksistensi para pahlawan pembela negeri. Kalau
Dunia Arab telah mandul melahirkan wanita permata, maka Dunia Islam yang
membentang dari pangkal Indonesia sampai ke pucuk Samudera Atlantik di pesisir
Afrika Barat, pasti telah bersiap-sedia menjadi wanita-wanita permata. Untuk melahirkan
pemimpin satria sekelas Al-Fatih. Bukan seperti pemimpin Arab yang kini hanya
bisa menonton Genosida di Gazza.





