Isra’
Mi’raj Nabi Muhammad SAW
Dalam sejarah
umat Islam, peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di
Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina merupakan sebuah peristiwa yang sangat
fenomenal. Ini dikarenakan, saat peristiwa tersebut Nabi Muhammad SAW
memperoleh perintah ibadah wajib, yaitu salat lima waktu yang langsung
diperintahkan dari Allah SWT.
Dan,
perintah salat ini menjadi suatu ibadah wajib bagi setiap umat Islam
serta memiliki keistimewaan tersendiri, jika dibandingkan ibadah-ibadah
wajib lainnya. Sehingga, dalam konteks spiritual-imaniah maupun perspektif
rasional-ilmiah, Isra’ Mi’raj merupakan kajian yang tak kunjung kering
inspirasi dan hikmahnya bagi kehidupan umat beragama (Islam).
Imam
Al-Qusyairi yang lahir pada 376 Hijriyah, melalui buku yang berjudul asli
‘Kitab al-Mikraj’ ini, berupaya memberikan peta yang cukup komprehensif seputar
kisah dan hikmah dari perjalanan agung Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, beserta
telaahnya. Dengan menggunakan sumber primer, berupa ayat-ayat Al-Quran dan
hadist-hadits shahih, Imam al-Qusyairi dengan cukup gamblang menuturkan
peristiwa fenomenal yang dialami Nabi itu dengan runtut.
Jika
perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari
sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum
Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi'raj menjadi puncak perjalanan
seorang hamba (al-abd) menuju sang pencipta (al-Khalik). Isra Mi'raj adalah
perjalanan menuju kesempurnaan rohani (insan kamil). Sehingga, perjalanan ini
menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju
langit yang tinggi.
Inilah
perjalanan yang amat didambakan setiap pengamal tasawuf. Sedangkan menurut Dr
Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting dari peristiwa Isra Mi'raj yakni
ketika Rasulullah SAW "berjumpa" dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan
penuh hormat Rasul berkata, "Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth
thayyibatulillah"; "Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan
hanyalah milik Allah saja". Allah SWT pun berfirman, "Assalamu'alaika
ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh".
Mendengar
percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat. Maka,
dari ungkapan bersejarah inilah kemudian bacaan ini diabadikan sebagai bagian
dari bacaan salat.
Selain itu,
Seyyed Hossein Nasr dalam buku ‘Muhammad Kekasih Allah’ (1993) mengungkapkan
bahwa pengalaman rohani yang dialami Rasulullah SAW saat Mi'raj mencerminkan
hakikat spiritual dari salat yang di jalankan umat Islam sehari-hari. Dalam
artian bahwa salat adalah mi'raj-nya orang-orang beriman. Sehingga jika kita
tarik benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini.
Ada beberapa
hikmah dari peristiwa Isra' Mi'raj:
1. Adanya
penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam.
2. Kesabaran
yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi'raj dan perintah
salat.
3. Salat
menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut
kemenangan.
Ketiga hal
diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang
berbunyi "Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya
yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu)
orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka
akan kembali kepada-Nya."
Mengacu pada
berbagai aspek diatas, buku setebal 178 halaman ini setidaknya sangat menarik, karena
selain memberikan bingkai yang cukup lengkap tentang peristiwa Isra’ Mi'raj
Nabi saw, tetapi juga memuat mi’rajnya beberapa Nabi yang lain serta beberapa
wali. Kemudian kelebihan lain dalam buku ini adalah dipaparkan juga mengenai
kisah Mi'rajnya Abu Yazid al-Bisthami. Mikraj bagi ulama kenamaan ini merupakan
rujukan bagi kondisi, kedudukan, dan perjalanan ruhaninya menuju Allah.
Ia
menggambarkan rambu-rambu jalan menuju Allah, kejujuran dan ketulusan niat
menempuh perjalanan spiritual, serta keharusan melepaskan diri dari segala
sesuatu selain Allah. Maka, sampai pada satu kesimpulan, bahwa jika perjalanan
hijrah menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada
yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi'raj
menjadi "puncak" perjalanan seorang hamba menuju kesempurnaan ruhani.
Dikutip dari laman NU, Senin (26/5).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar