Senin, 22 Februari 2016

Gotong Royong Kerjabakti Membangun (renovasi) Sarana Ibadah Musholla al-Fudhola GP

Membangun Sarana Ibadah Untuk Perubahan Akhlak Mental & Kepribadian, Meraih Kemaslahatan.
Pembangunan manusia seutuhnya adalah pembangunan yang ditinjau dari berbagai aspek, antara lain aspek fisik, mental dan sosial. Pembangunan fisik lebih dekat kaitannya dan sangat mudah diukur dengan melihat kehadiran bentuk fisik dari obyek yang dibangun. Sedangkan pembangunan mental atau rohani lebih sukar diukur secara kasat mata. Namun demikian pembangunan fisik harus selalu seimbang dengan pembangunan mentalnya. Sebagai salah satu contoh aktifitas pembangunan fisik adalah dengan bermunculannya gedung-gedung pencakar langit dan kawasan-kawasan industri baru yang bertujuan untuk menfasilitasi dan mempercepat laju pertumbuhan yang bersifat fisik khususnya dalam hal perekonomian. Dengan demikian salah satu wujud ungkapan langkah nyata dalam kegiatan pembangunan mental spiritual yang sangat erat kaitannya dengan hal-hal yang bersifat keagamaan adalah tentunya juga dengan melakukan kegiatan pembangunan sarana dan prasarana sebagai media untuk mendukung setiap kegiatan keagamaan tersebut. Salah satu contoh sarana tersebut adalah dengan adanya rumah ibadah.
Membangun rumah ibadah yang sudah dilengkapi dengan prasarana yang sangat memadai merupakan harapan yang tidak mudah diraih namun juga bukan sesuatu hal yang mustahil untuk diwujudkan, apabila ada niat tulus ikhlas ataupun uluran tangan dari umat yang peduli atas kemajuan agamanya. Sebagai umat islam yang peduli terhadap agamanya tentu kita harus mewujudkan sebuah rumah ibadah (masjid/musholla) yang memiliki sarana yang memadai untuk kenyamanan beribadah. Ibadah sebagai salah satu manifestasi kita sebagai hamba ALLAH SWT untuk memperoleh Ridho-Nya dalam hidup ini. Maka peran dan fungsi masjid atau musholla disini akan menjadi sangat penting. Tak pelak lagi bagi kaum Muslimin yang bertaqwa kepada ALLAH SWT, bahwa membangun dan memakmurkan rumah ALLAH SWT tersebut menjadi sebuah kewajiban dimanapun umat Islam berada.
Sebagaimana Firman ALLAH SWT dalam kitab suci AL Qur’an :
Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-musholla Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk ” ( Q.S. At-Taubah : 18 ).
Dalam sebuah Hadist riwayat Muslim Rasulullah SAW bersabda :
 “Barang siapa membangun masjid karena ALLAH, maka ALLAH akan membangun baginya sebuah istana di surga”.











































Rabu, 28 Mei 2014

Acara PHBI Masjid Jami' Al-Munawwaroh


Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Dalam sejarah umat Islam, peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina merupakan sebuah peristiwa yang sangat fenomenal. Ini dikarenakan, saat peristiwa tersebut Nabi Muhammad SAW memperoleh perintah ibadah wajib, yaitu salat lima waktu yang langsung diperintahkan dari Allah SWT. 

Dan, perintah salat ini menjadi suatu ibadah wajib bagi setiap umat Islam  serta memiliki keistimewaan tersendiri, jika dibandingkan ibadah-ibadah wajib lainnya. Sehingga, dalam konteks spiritual-imaniah maupun perspektif rasional-ilmiah, Isra’ Mi’raj merupakan kajian yang tak kunjung kering inspirasi dan hikmahnya bagi kehidupan umat beragama (Islam).

Imam Al-Qusyairi yang lahir pada 376 Hijriyah, melalui buku yang berjudul asli ‘Kitab al-Mikraj’ ini, berupaya memberikan peta yang cukup komprehensif seputar kisah dan hikmah dari perjalanan agung Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, beserta telaahnya. Dengan menggunakan sumber primer, berupa ayat-ayat Al-Quran dan hadist-hadits shahih, Imam al-Qusyairi dengan cukup gamblang menuturkan peristiwa fenomenal yang dialami Nabi itu dengan runtut.

Jika perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi'raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba (al-abd) menuju sang pencipta (al-Khalik). Isra Mi'raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan rohani (insan kamil). Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi.

Inilah perjalanan yang amat didambakan setiap pengamal tasawuf. Sedangkan menurut Dr Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting dari peristiwa Isra Mi'raj yakni ketika Rasulullah SAW "berjumpa" dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata, "Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah"; "Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja". Allah SWT pun berfirman, "Assalamu'alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh".

Mendengar percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat. Maka, dari ungkapan bersejarah inilah kemudian bacaan ini diabadikan sebagai bagian dari bacaan salat.

Selain itu, Seyyed Hossein Nasr dalam buku ‘Muhammad Kekasih Allah’ (1993) mengungkapkan bahwa pengalaman rohani yang dialami Rasulullah SAW saat Mi'raj mencerminkan hakikat spiritual dari salat yang di jalankan umat Islam sehari-hari. Dalam artian bahwa salat adalah mi'raj-nya orang-orang beriman. Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini.

Ada beberapa hikmah dari peristiwa Isra' Mi'raj:

1. Adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. 
2. Kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi'raj dan perintah salat. 
3. Salat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. 
 
Ketiga hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi "Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya."

Mengacu pada berbagai aspek diatas, buku setebal 178 halaman ini setidaknya sangat menarik, karena selain memberikan bingkai yang cukup lengkap tentang peristiwa Isra’ Mi'raj Nabi saw, tetapi juga memuat mi’rajnya beberapa Nabi yang lain serta beberapa wali. Kemudian kelebihan lain dalam buku ini adalah dipaparkan juga mengenai kisah Mi'rajnya Abu Yazid al-Bisthami. Mikraj bagi ulama kenamaan ini merupakan rujukan bagi kondisi, kedudukan, dan perjalanan ruhaninya menuju Allah.

Ia menggambarkan rambu-rambu jalan menuju Allah, kejujuran dan ketulusan niat menempuh perjalanan spiritual, serta keharusan melepaskan diri dari segala sesuatu selain Allah. Maka, sampai pada satu kesimpulan, bahwa jika perjalanan hijrah menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi'raj menjadi "puncak" perjalanan seorang hamba menuju kesempurnaan ruhani. Dikutip dari laman NU, Senin (26/5).

sumber: kajian Islam Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW